Terpaksa #dirumahaja karena pandemi Covid-19, kamu masih bisa belanja banyak barang tidak biasa di situs online ini. Banyak keuntungan yang bisa didapat, lho!

Bayangkan ini. Tim sales kamu baru saja dapat green light dari calon klien besar di Jakarta. Tiket dipesan lewat Traveloka, hotel lewat Booking.com, dan transfer bandara? Grab saja waktu sampai. Semua tampak efisien dan terkontrol, sampai laporan pengeluaran akhir bulan masuk dan angkanya dua kali lipat dari perkiraan awal.
Bukan skenario yang asing bagi kebanyakan founder yang membangun bisnis di Asia Tenggara. Masalahnya bukan di harga tiket yang kamu lihat saat memesan. Masalahnya ada di semua biaya yang tidak terlihat sampai sudah terlambat untuk melakukan apa-apa.
Ada jarak yang signifikan antara harga yang kamu lihat saat klik "pesan" dan total biaya yang benar-benar keluar dari rekening perusahaan.
Booking fee yang disembunyikan di halaman konfirmasi. Biaya bagasi karena platform OTA sering tidak menampilkan apa yang sudah termasuk di harga dasar. Biaya perubahan jadwal yang bisa mencapai nilai tiket itu sendiri ketika pertemuan harus diundur mendadak. Semua ini muncul satu per satu, diklaim oleh orang berbeda, lewat kartu kredit berbeda, tanpa ada yang punya gambaran penuh tentang total pengeluaran.
Perusahaan besar sudah lama tahu tentang jebakan ini. Makanya mereka menggunakan sistem perjalanan terkelola yang mengkonsolidasi semua biaya dalam satu platform. UKM biasanya baru sadar ada masalah ketika angka di laporan keuangan tidak masuk akal.
Coba hitung: berapa jam yang dihabiskan timmu untuk urusan perjalanan dalam sebulan terakhir? Bukan waktu di pesawat, tapi waktu untuk membandingkan harga di empat aplikasi, mengurus struk berserakan, menjawab pertanyaan "harus pakai kartu mana?", dan merekonsiliasi laporan pengeluaran di akhir bulan.
Kalau rata-rata satu perjalanan membutuhkan dua jam kerja administrasi dan tim kamu melakukan sepuluh perjalanan sebulan, itu dua puluh jam waktu produktif yang hilang begitu saja. Kalikan dengan rata-rata biaya per jam anggota tim. Angka itu lebih besar dari yang kebanyakan founder sadari, dan tidak pernah muncul sebagai baris tersendiri di laporan pengeluaran perjalanan.
Di perusahaan besar, ada tim atau sistem yang menangani ini. Di UKM, biasanya jatuh ke orang yang sebetulnya punya pekerjaan lain yang jauh lebih penting.
Tanpa kebijakan perjalanan dan sistem terpusat, setiap orang di tim membuat keputusan sendiri. Satu orang selalu pilih hotel paling murah walau jauh dari lokasi pertemuan. Yang lain pesan kelas bisnis karena tidak ada yang bilang tidak boleh. Ada yang klaim transfer bandara, ada yang tidak.
Hasilnya: biaya perjalanan per orang untuk rute identik bisa berbeda jauh tanpa alasan yang bisa kamu jelaskan. Dan karena datanya tersebar di berbagai platform dan laporan, kamu tidak bisa melihat polanya sampai sudah terlambat untuk mengoptimasi.
Perusahaan yang serius soal efisiensi biaya punya data ini secara real-time. Mereka tahu rata-rata biaya per rute, per kota, per anggota tim. Mereka bisa negosiasi tarif lebih baik karena punya volume perjalanan yang tercatat rapi. UKM biasanya tidak sampai pada posisi ini karena datanya tidak pernah terkumpul di satu tempat.
Kalau timmu rutin bepergian untuk kerja, coba jawab tiga pertanyaan ini dengan jujur.
Pertama, berapa total biaya perjalanan bisnis perusahaanmu bulan lalu, termasuk semua fee tersembunyi dan pengeluaran tambahan, bukan cuma tiket dan hotel? Kedua, berapa jam waktu tim yang habis untuk administrasi perjalanan di periode yang sama? Ketiga, apakah kamu punya data yang cukup untuk negosiasi tarif lebih baik dengan maskapai atau jaringan hotel yang rutin kamu gunakan?
Kalau kamu tidak bisa menjawab salah satu dari pertanyaan ini dengan yakin, ada kebocoran di anggaran perjalananmu yang belum terlihat.
1. Kumpulkan semua pengeluaran perjalanan dari tiga bulan terakhir di satu tempat, termasuk booking fee, biaya perubahan, dan klaim tim. Totalnya mungkin mengejutkan.
2. Hitung waktu administrasi, bukan cuma biaya langsung. Estimasi jam yang dihabiskan untuk booking dan rekonsiliasi pengeluaran, lalu kalikan dengan biaya per jam rata-rata timmu.
3. Identifikasi rute dan kota yang paling sering dikunjungi. Ini titik awal untuk negosiasi tarif lebih baik saat kamu sudah punya data terpusat.
4. Hitung berapa platform yang digunakan timmu untuk memesan perjalanan bulan lalu. Setiap platform tambahan adalah sumber data yang terpisah dan potensi kebocoran biaya yang lebih sulit dilacak.
5. Pertimbangkan kapan perjalanan terkelola mulai masuk akal secara ekonomis untuk bisnismu. Threshold-nya biasanya lebih rendah dari yang founder bayangkan, terutama kalau biaya waktu ikut diperhitungkan.
Kalau pertanyaan-pertanyaan di atas terasa relevan dengan situasi bisnismu, kamu tidak sendirian. Bliink bekerja dengan UKM di Asia Tenggara untuk menyederhanakan manajemen perjalanan bisnis, dari pemesanan sampai rekonsiliasi pengeluaran dalam satu sistem. Tidak ada kontrak, tidak ada langganan, tidak ada minimum volume. Kamu bayar sesuai yang kamu gunakan.
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Terpaksa #dirumahaja karena pandemi Covid-19, kamu masih bisa belanja banyak barang tidak biasa di situs online ini. Banyak keuntungan yang bisa didapat, lho!
Setelah periode PSBB berakhir dan mencari suasana baru #workfromhome, kamu bisa mengunjungi coworking space di Jakarta ini untuk alternatif yang asyik.
Saat bekerja dan belajar dirumah diterapkan, kamu tetap bisa berhubungan dengan rekan kerja dan belajar dengan aplikasi video conference ini.
Selagi #dirumahaja nggak ada salahnya untuk menonton Drama Korea yang tayang di tahun 2020 untuk mengurangi rasa bosanmu.
Jika kamu ingin mencari alternatif untuk mengisi waktu di rumah, kelas online gratis do it yourself ini dapat menjadi pilihan yang tepat
Persiapan untuk konser Olivia Dean!
Ada banyak restoran punya tempat shalat.
Salah satu perayaan dan festival budaya di Singapura yang tidak boleh dilewatkan!
Kamu tim bakso urat, telur, cincang, mercon, atau keju?
Persiapan ini tak boleh kamu lewatkan! Semangat, ya, para lady biker semua!