Ini dia daftar negara yang bisa kamu kunjungi tanpa pengurusan visa fisik di kedubes dengan paspor Indonesia kamu! Bebas visa fisik ke negara-negara terkenal seperti Maldives, Jepang dan Hong Kong dan lainnya lho!

Selama ini, mungkin yang langsung terlintas di pikiranmu ketika mendengar Macao adalah casino, resort mewah, pusat perbelanjaan, dan gemerlap lampu kota yang seolah nggak pernah berhenti. Macao memang terkenal sebagai salah satu pusat perjudian terbesar di Asia. Karena ukurannya yang cukup compact, banyak wisatawan bahkan memilih mengunjunginya hanya sebagai perjalanan satu hari dari Hong Kong. Padahal, menurutku, Macao punya sisi lain yang jauh lebih menarik untuk dijelajahi.
Baca juga: 11 Tempat Wisata di Macau Yang Paling Populer dan Banyak Yang Gratis!
Kalau kamu punya waktu lebih, coba deh tinggal di Macao selama 3 hari 2 malam seperti yang aku lakukan. Dengan waktu yang lebih panjang, kamu bisa mengenal sisi Macao yang ternyata cukup ramah Muslim, mulai dari menemukan makanan halal, tempat untuk beribadah, aktivitas menarik, sampai menelusuri jejak sejarah dan pengaruh Islam di kota yang pernah dijuluki “Vatikan dari Timur Jauh” ini. Kaget, kan? Aku juga awalnya nggak menyangka kalau Macao ternyata punya cerita Islam yang cukup menarik. Jadi, kalau kamu penasaran, yuk ikuti itinerary-ku untuk menikmati Macao sebagai Muslim traveler dari sisi yang berbeda, tetapi tetap seru dan menyenangkan!
Macao terbagi menjadi empat kawasan utama, yaitu Semenanjung Macao, Taipa, Cotai, dan Coloane. Di hari pertama, begitu tiba di Macao, aku langsung menuju kawasan Cotai untuk mulai menjelajah. Lokasinya juga cukup praktis karena Cotai relatif dekat dari bandara maupun pelabuhan feri yang menghubungkan Macao dengan Hong Kong.
Selama berada di Macao, aku lebih banyak berkeliling menggunakan bus. Ada bus umum dengan tarif sekitar MOP 6 untuk berbagai rute. Menariknya, beberapa resort juga menyediakan bus antar-jemput gratis yang bisa digunakan oleh masyarakat umum. Jadi, kamu nggak harus selalu mengandalkan taksi untuk berkeliling. Cotai sendiri terkenal dengan deretan resort mewah seperti The Venetian, The Londoner, dan The Parisian, yang sekaligus bisa menjadi tempat berburu foto keren.

Salah satu hal unik yang bisa kamu temukan di kawasan Cotai adalah berbagai replika bangunan ikonik Eropa dalam satu kawasan. Bayangkan saja, kamu bisa melihat Menara Eiffel dan Buckingham Palace yang lokasinya bahkan bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Hahaha, nggak perlu terbang ke Eropa dulu!
Di The Parisian dan The Londoner, aku sendiri hanya menyempatkan diri untuk berfoto di bagian depannya. Tapi jujur, tempatnya memang sangat menarik untuk dijadikan latar foto karena suasananya dibuat menyerupai bangunan aslinya di Eropa. Jadi, buat kamu yang suka membuat konten perjalanan atau sekadar ingin punya foto liburan yang cantik, dua tempat ini wajib masuk daftar kunjungan.

Resort yang benar-benar aku masuki adalah The Venetian. Dari luar, bangunannya mungkin terlihat seperti resort mewah pada umumnya. Namun, begitu masuk ke dalam, suasananya langsung terasa berbeda. Rasanya seperti tiba-tiba berpindah ke Venesia karena di dalam resort ini terdapat kanal lengkap dengan gondola.
Yang menarik, seluruh suasana tersebut berada di dalam ruangan. Jadi, kamu nggak perlu khawatir kepanasan saat menikmati suasana ala Venesia. Ini juga menjadi salah satu aktivitas yang menurutku cukup nyaman dilakukan di Macao, terutama ketika cuaca sedang panas dan lembap.
Aku pun akhirnya mencoba naik gondola. Harga tiketnya sekitar MOP 175 per orang dan bisa dibeli langsung di lokasi. Naik gondola sambil menikmati interior bergaya Venesia dan tentunya sambil berfoto menjadi pengalaman yang cukup unik. Kalau ini adalah pertama kalinya kamu mengunjungi Macao, menurutku pengalaman naik gondola ini layak dicoba setidaknya sekali.

Kalau kamu pernah melihat teamLab di Jepang, konsep yang ditawarkan di teamLab SuperNature Macao mungkin akan terasa familiar. Tempat ini menghadirkan berbagai instalasi imersif yang menggabungkan cahaya, seni, teknologi, dan interaksi dalam satu pengalaman yang seru.
Beberapa koleksi yang bisa kamu temukan di sini antara lain “The Infinite Crystal Universe”, “Athletics Forest”, “Inverted Globe Graffiti Nature”, serta “Valley of Flowers and People”. Jadi, tempat ini bukan sekadar lokasi untuk berfoto. Kamu juga bisa bergerak, berinteraksi dengan instalasi, dan menggunakan kreativitas selama menjelajahinya.
Menurutku, tempat ini sangat cocok untuk kamu yang Muslim traveler dan bepergian bersama keluarga. Aktivitasnya nggak hanya cocok untuk anak-anak, tetapi juga bisa dinikmati orang dewasa. Bahkan aku yang datang sendirian saja bisa merasa senang banget menjelajahi tempat ini!
Setelah puas bermain, saatnya mencari makanan! Salah satu kuliner yang tentu nggak boleh dilewatkan ketika berada di Macao adalah Portuguese egg tart. Menariknya, di The Venetian terdapat bakery yang sudah berdiri sejak 1989 dan terkenal dengan Portuguese egg tart yang bisa menjadi pilihan ramah Muslim.
Antreannya memang terlihat cukup panjang, tetapi ternyata nggak selama yang aku bayangkan. Nggak lama kemudian aku sudah mendapatkan egg tart yang masih hangat dan baru keluar dari oven. Dan wow, menurutku ini salah satu egg tart terbaik yang pernah aku makan!
Bagian luarnya terasa garing dan renyah, sedangkan bagian dalamnya lembut dan lumer di mulut. Aroma butternya juga harum banget. Setelah seharian berjalan-jalan, makan egg tart hangat seperti ini rasanya benar-benar pas!

Kabar baik lainnya buat Muslim traveler, di kawasan Cotai kamu juga bisa menemukan kafe estetik dengan suasana yang cantik dan bersertifikat halal, yaitu EL&N Cafe. Interiornya didominasi warna merah muda dan dekorasi bunga, sehingga hampir setiap sudutnya terasa cocok untuk dijadikan latar foto.
Lokasinya berada di Grand Lisboa Palace Level 2. Selain tempatnya cantik, kafe ini menyajikan berbagai menu bergaya Barat dengan rasa yang lezat dan porsi yang cukup besar. Jadi, setelah puas berfoto, kamu bisa sekalian makan siang dengan lebih tenang karena makanan yang tersedia sudah bersertifikat halal.
Satu hal yang aku suka dari Macao adalah ternyata kamu nggak harus selalu mengeluarkan banyak uang untuk menikmati hiburan. Beberapa resort besar di Cotai menyediakan pertunjukan gratis yang bisa kamu nikmati sambil berjalan-jalan.
Beberapa pertunjukan gratis yang bisa kamu masukkan ke dalam itinerary antara lain:
Parade di The Londoner — setiap hari pukul 18.30
Pertunjukan cahaya di Menara Eiffel The Parisian
Dancing Water di Wynn Palace, sekaligus menikmati kereta gantung gratis
Sea Odyssey di MGM Cotai
Jadi, kalau kamu sedang bepergian dengan anggaran terbatas, jangan langsung menganggap semua aktivitas di Macao mahal. Ternyata ada juga banyak atraksi gratis yang bisa kamu nikmati.

Setelah seharian menjelajahi kawasan Cotai, malamnya aku makan malam di Zam Zam Restaurant. Restoran ini menyajikan berbagai menu Timur Tengah yang sudah bersertifikat halal. Aku sendiri memesan butter chicken dan ternyata porsinya besar banget. Rasanya juga lezat dan cukup mengenyangkan setelah seharian berjalan-jalan.
Yang membuatnya semakin praktis, di lokasi yang sama terdapat Regency Art Hotel, yang bisa menjadi salah satu pilihan tempat menginap selama berada di Macao. Lokasinya cukup strategis dan dekat dengan halte bus, sehingga kamu lebih mudah bepergian ke berbagai tempat. Buat Muslim traveler yang ingin mencari akomodasi dengan akses transportasi yang mudah, lokasi seperti ini cukup membantu.
Kalau hari pertama aku lebih banyak menikmati sisi modern Macao dengan resort, pusat hiburan, dan tempat-tempat cantik, hari kedua punya suasana yang benar-benar berbeda. Kali ini aku meninggalkan hiruk-pikuk resort, pusat perbelanjaan, dan casino untuk menjelajahi sejarah Macao sekaligus jejak pengaruh Islam di kota ini.
Ternyata, Macao punya banyak bangunan bersejarah yang masih berdiri hingga sekarang. Jadi, buat kamu yang suka wisata budaya dan ingin melihat sisi Macao yang lebih autentik, hari kedua ini justru menjadi salah satu bagian paling menarik dari perjalanan 3 hari 2 malamku.

Perjalanan sejarahku dimulai dari Lilau Square, sebuah alun-alun bersejarah yang merupakan bagian dari Pusat Sejarah Macao, Situs Warisan Dunia UNESCO. Suasananya terasa jauh lebih tenang dibandingkan kawasan Cotai. Di sini kamu bisa melihat bagaimana kawasan Macao pada masa lalu berkembang sebagai salah satu pemukiman awal masyarakat Portugis.
Salah satu bagian menarik di sini adalah Lilau Well, sebuah sumur dan air mancur yang dulunya menjadi salah satu sumber air alami penting bagi penduduk awal kawasan tersebut. Dari sini, kamu bisa melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki menuju Moorish Barracks atau Barak Moor.
Bangunan bersejarah ini dibangun pada tahun 1874 untuk menampung pasukan polisi dari Goa, India, yang bertugas di bawah pemerintahan kolonial Portugis di Macao. Arsitekturnya menarik karena memadukan gaya neoklasik dengan sentuhan Mughal atau Moorish yang memiliki pengaruh arsitektur Islam. Saat ini, Moorish Barracks digunakan sebagai kantor pusat Biro Kelautan dan Perairan serta menjadi bagian dari Pusat Sejarah Macao yang diakui sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO sejak 2005.
Dari sini, perjalanan bisa dilanjutkan menuju Barra Square, sebuah alun-alun bersejarah yang berada tepat di depan Kuil A-Ma dan menghadap ke Pelabuhan Dalam.
Kuil A-Ma sendiri merupakan salah satu kuil Taois dan Buddha tertua di Macao. Kuil ini dibangun pada tahun 1488 dan didedikasikan untuk Mazu, Dewi Laut yang dipercaya sebagai pelindung para nelayan. Bahkan, kuil ini dipercaya berkaitan dengan asal-usul nama “Macau”. Nama tersebut diyakini berasal ketika pelaut Portugis bertanya kepada penduduk lokal mengenai nama tempat tersebut dan mendapatkan jawaban “A-maa-gok”, yang berarti Teluk A-Ma.

Perjalanan sejarah kemudian berlanjut ke Taipa Houses, kompleks lima rumah kolonial bersejarah bergaya Portugis dengan warna hijau pastel yang ikonik. Tempat ini kini berfungsi sebagai museum dan destinasi wisata yang memperlihatkan sejarah, artefak, serta kehidupan masyarakat Macanese pada masa lalu. Suasananya tenang dengan kolam teratai dan area pejalan kaki yang asri, sehingga terasa kontras dengan gemerlap kawasan Cotai.

Setelah itu, kamu bisa mengunjungi Macao Museum dan Monte Fort atau Fortaleza do Monte. Monte Fort merupakan bekas benteng pertahanan militer dari abad ke-17 yang kini menjadi salah satu tempat wisata populer untuk melihat pemandangan kota dari ketinggian.
Dan tentu saja, perjalanan ke kawasan bersejarah Macao belum lengkap tanpa mampir ke Ruins of St. Paul’s. Ikon paling terkenal di Macao ini merupakan sisa fasad dari kompleks bangunan religius Katolik abad ke-17. Dulunya, tempat ini merupakan Gereja Mater Dei dan St. Paul’s College yang dibangun oleh kaum Yesuit antara tahun 1602–1640.
Kompleks tersebut pernah menjadi salah satu gereja Katolik terbesar di Asia Timur dan universitas bergaya Barat pertama di kawasan ini. Kebakaran besar pada tahun 1835 kemudian menghancurkan sebagian besar bangunan dan menyisakan fasad batu serta tangga yang kita lihat sampai sekarang.

Nah, ini salah satu aktivitas anti-mainstream yang menurutku menarik banget untuk Muslim traveler: Portuguese Azulejo Tile Painting Workshop. Sekilas mungkin kelihatannya hanya workshop melukis ubin keramik. Namun, aktivitas ini ternyata juga bisa menjadi cara yang menyenangkan untuk mengenal hubungan antara budaya Portugis dan sejarah Islam.
Azulejo, yaitu seni ubin keramik khas Portugis, memiliki benang merah historis dengan sejarah Islam. Hubungan tersebut berkaitan dengan pengaruh bangsa Moor, yaitu masyarakat Muslim dari Afrika Utara, terhadap perkembangan seni dan arsitektur di Semenanjung Iberia. Pengaruh tersebut kemudian menjadi bagian dari warisan budaya Portugis yang dibawa hingga ke Asia.
Selain mendapatkan pengalaman budaya, menurutku workshop seperti ini juga cocok banget menjadi jeda dari aktivitas wisata sejarah. Kamu bisa duduk santai di dalam ruangan, melukis, dan menumpahkan kreativitas. Apalagi cuaca Macao bisa terasa panas dan lembap, jadi punya aktivitas dalam ruangan yang santai seperti ini terasa menyenangkan. Traveling nggak harus selalu jalan terus sampai kaki pegal, kan?

Hari kedua aku tutup dengan makan malam berupa Chinese hot pot halal. Kalau kamu ingin mencoba makanan China yang lebih autentik tetapi tetap nyaman sebagai Muslim traveler, Dong Lai Shun bisa menjadi salah satu pilihan.
Restoran ini dikenal dengan hot pot tradisional China halal yang menggunakan bahan-bahan segar dan pilihan kuah. Konsep makan hot pot yang disantap bersama juga membuat pengalaman makannya terasa lebih seru, terutama kalau kamu bepergian bersama keluarga atau teman. Bahkan, tersedia juga ruang salat berdasarkan permintaan, sehingga kamu bisa menikmati makan malam dengan lebih nyaman.
Hari ketiga menjadi hari terakhirku di Macao. Kali ini aku nggak membuat itinerary yang terlalu padat karena fokusnya adalah menjelajahi Senado Square, berburu makanan dan camilan halal untuk oleh-oleh, lalu melanjutkan perjalanan meninggalkan Macao.
Senado Square atau Largo do Senado merupakan salah satu alun-alun publik paling ikonik di Macao dengan luas sekitar 3.700 meter persegi. Lokasinya berada di jantung pusat kota dan selama berabad-abad menjadi salah satu pusat aktivitas masyarakat. Kawasan ini juga menjadi tempat yang pas untuk menikmati suasana kota sambil berjalan santai dan mencari oleh-oleh.

Kalau kamu ingin membawa pulang oleh-oleh untuk keluarga, salah satu tempat yang bisa kamu datangi adalah MinM Plaza Macao (澳品薈). Tempat ini merupakan pusat perbelanjaan terpadu yang didirikan oleh Asosiasi Industri Macao untuk mempromosikan produk lokal asli buatan Macao, merek lokal, desain kreatif, hingga berbagai produk dari negara-negara berbahasa Portugis.
Yang menarik untuk Muslim traveler, MinM Plaza memiliki area khusus atau Pojok Halal yang menjual berbagai camilan bersertifikat halal. Jadi, kamu nggak perlu bingung mencari oleh-oleh yang aman untuk dibawa pulang. Tinggal datang, pilih-pilih, lalu masukkan ke koper!

Tempat lainnya yang bisa kamu kunjungi adalah Alua e Comidas Portuguesa “Kam In”, sebuah toko kue legendaris di Macao. Toko ini menjual berbagai produk dan camilan yang ramah Muslim atau halal. Salah satu menu yang bisa kamu cari adalah Portuguese egg tart halal, serta berbagai kue kering tradisional yang dibuat menggunakan bahan bersertifikat halal seperti mentega merek Golden Churn.

Nah, bagian ini menjadi salah satu sorotan perjalananku sebagai Muslim traveler di Macao. Kamu bisa singgah untuk beribadah di The Macau Islamic Mosque and Cemetery, yang merupakan satu-satunya masjid aktif di Macao. Lokasinya berada di Ramal dos Mouros atau Lorong Kaum Moor di Our Lady of Fatima Parish.
Masjid ini dibangun pada awal tahun 1980-an dan dipercaya memiliki kaitan sejarah dengan komunitas Muslim dari Goa dan Mumbai yang pernah bertugas dalam tentara Portugis. Kompleksnya mencakup ruang salat, pemakaman Muslim bersejarah dengan makam yang berusia lebih dari satu abad, kantor pusat Islamic Association of Macau, area wudu, serta sebuah taman bermain kecil
Perlu diperhatikan, pengunjung tidak diperbolehkan mengambil gambar di dalam area tersebut. Jadi, kamu hanya bisa mengambil foto dari bagian depannya. Sebagai Muslim traveler, menurutku tempat ini tetap layak dimasukkan ke dalam itinerary karena memberikan pengalaman berbeda dan memperlihatkan keberadaan komunitas Muslim yang sudah menjadi bagian dari sejarah Macao.
Setelah selesai dari sini, aku kemudian melanjutkan perjalanan dengan bus menuju Bandara Internasional Hong Kong melalui Jembatan Hong Kong–Zhuhai–Macao. Rasanya agak campur aduk karena perjalanan 3 hari 2 malamku di Macao akhirnya selesai.
Baca juga : 12 Tempat Makan Halal di Macau, Surga Kuliner Bagi Wisatawan Muslim
Setelah membaca dan mengikuti itinerary-ku selama 3 hari 2 malam di Macao, sekarang kamu tahu kan kalau Macao ternyata jauh lebih dari sekadar casino, resort mewah, dan gemerlap kota? Di balik kawasan Cotai yang modern, ada sejarah panjang tentang pertemuan berbagai budaya, termasuk jejak dan pengaruh Islam yang masih bisa kamu temukan hingga sekarang. Mulai dari bangunan bersejarah dengan arsitektur Moorish, makanan halal, aktivitas ramah Muslim, hingga satu-satunya masjid aktif di Macao. Jadi, kalau kamu ingin menikmati Macao sebagai Muslim traveler dengan pengalaman yang lebih lengkap, coba deh tinggal lebih lama dan jelajahi sisi lainnya. Yuk, mulai rencanakan perjalananmu dan pesan tiket ke Macao sekarang!
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Ini dia daftar negara yang bisa kamu kunjungi tanpa pengurusan visa fisik di kedubes dengan paspor Indonesia kamu! Bebas visa fisik ke negara-negara terkenal seperti Maldives, Jepang dan Hong Kong dan lainnya lho!
Ini dia 10 gunung yang harus kamu daki di Indonesia untuk melihat pemandangan mempesona negara kita! Mulai dari gunung yang mudah didaki hingga gunung yang tersusah untuk dijajahi!
Lupakan Perancis dan Inggris! Kunjungi 10 negara di Eropa ini yang tidak kalah cantik tapi jauh lebih murah dan luar biasa saja.
Siapa bilang tidak ada yang bisa dilihat di Surabaya? Ini dia 10 tempat di Surabaya yang harus kamu kunjungi!
Artikel ini dikontribusikan dan ditranslasikan oleh Seoul Wanderlust Stories. For the English version of this article, read it here. Ini dia 10 tempat di Seoul favoritku yang bisa dijadikan background keren untuk foto Instagram kamu! Nota: Tempat-tempat disini hanya tempat yang pernah saya kunjungi langsung. Di akhir daftar, saya akan memasukkan beberapa tempat ekstra yang instagramable juga tapi […]
Nggak cuma Pasar Ngasem yang punya kuliner enak!
Dari Seoul ke Busan dengan cara yang lebih nyaman dan cepat.
Ini saatnya kamu liburan di Manila dengan nyaman!
Biar gak kagok saat tiba di Malaysia!
Kenakan masker dan lindungi mata, karena abu vulkanik bisa berbahaya untuk kesehatan.