Ini dia daftar negara yang bisa kamu kunjungi tanpa pengurusan visa fisik di kedubes dengan paspor Indonesia kamu! Bebas visa fisik ke negara-negara terkenal seperti Maldives, Jepang dan Hong Kong dan lainnya lho!

Swiss memang terkenal sebagai salah satu destinasi winter terbaik di dunia. Bayangkan menikmati pemandangan Pegunungan Alpen yang tertutup salju, naik kereta melewati desa-desa cantik, atau sekadar berjalan santai di kota dengan udara dingin yang segar. Tidak heran kalau Switzerland menjadi salah satu destinasi impian banyak wisatawan, termasuk Muslim traveler.
Baca juga : Wajib Tahu! 9 Alasan Kamu Harus Perpanjang Liburanmu di Swiss Saat Musim Gugur & Dingin
Tapi, tahukah kamu kalau Swiss ternyata punya cukup banyak fasilitas ibadah untuk Muslim? Diperkirakan ada lebih dari 200 masjid dan musala di berbagai wilayah Swiss. Bahkan, ada aplikasi Swiss Mosque yang bisa membantu wisatawan Muslim mencari masjid dan tempat ibadah. Jadi, kalau kamu sedang merencanakan liburan musim dingin ke Switzerland, tidak perlu terlalu khawatir soal mencari tempat shalat. Berikut beberapa masjid dan prayer room yang bisa kamu masukkan ke itinerary.
Masjid Jenewa, yang juga dikenal sebagai Mosquée de Genève atau Mosquée de Petit-Saconnex, merupakan salah satu masjid terbesar di Swiss. Masjid ini berada di kawasan Le Petit-Saconnex dan didirikan pada 1978 dengan dukungan Liga Dunia Muslim yang berbasis di Arab Saudi. Peresmiannya dilakukan oleh Raja Arab Saudi Khalid ibn Abdulaziz bersama Presiden Konfederasi Swiss Willi Ritschard.
Masjid ini mampu menampung sekitar 1.500 jamaah dan memiliki atrium besar yang dipenuhi cahaya alami. Menariknya, Masjid Jenewa juga terbuka untuk pengunjung non-Muslim dan rutin menerima kunjungan dari sekolah-sekolah di Jenewa. Buat Muslim traveler, tempat ini bisa menjadi pilihan untuk menunaikan shalat sekaligus mengenal lebih dekat kehidupan komunitas Muslim di Jenewa.
Kalau itinerary kamu membawa kamu ke Zurich, kamu bisa mengunjungi Mahmood Mosque atau Mahmud Moschee yang berada di Forchstrasse. Masjid ini dikenal sebagai masjid pertama yang secara khusus dibangun di Swiss dan dikelola oleh komunitas Muslim Ahmadiyah.
Salah satu hal yang membuat masjid ini menarik adalah keberadaan menaranya. Pembangunan masjid dimulai pada 1962 dan resmi dibuka pada 1963. Peletakan batu pertamanya menggunakan batu dari dinding Masjid Mubarak di India dan dilakukan oleh Amatul Hafeez Begum, putri pendiri Jamaah Muslim Ahmadiyah, Mirza Ghulam Ahmad. Selain menjadi tempat ibadah, masjid ini juga menjadi bagian dari sejarah perkembangan komunitas Muslim di Swiss.
Berbeda dengan masjid yang berada di kota besar, Masjid Nuur berada di Wigoltingen, Thurgau. Masjid ini dibangun sebagai respons terhadap semakin berkembangnya komunitas Muslim di wilayah tersebut. Bangunannya sebelumnya merupakan sebuah bengkel tukang kayu yang kemudian diubah menjadi tempat ibadah.
Proses pembangunan Masjid Nuur sempat menghadapi beberapa tantangan dan penolakan dari sebagian warga setempat. Untuk membangun komunikasi yang lebih baik, komunitas Muslim kemudian mengadakan sebuah acara yang juga melibatkan seorang jurnalis non-Muslim dan seorang pendeta. Setelah itu, keberatan terhadap proyek tersebut tidak lagi berlanjut. Nama Masjid Nuur sendiri menjadi simbol dari keberhasilan komunitas dalam melewati berbagai tantangan tersebut.
Salah satu tempat ibadah Muslim yang cukup unik di Swiss adalah Masjid Bern, yang berada di dalam kompleks House of Religions atau Haus der Religionen. Lokasinya berada di Europaplatz 1, 3008 Bern, dan cukup mudah dijangkau karena hanya beberapa menit berjalan kaki dari Bern Europaplatz Bahnhof.
Yang membuat masjid ini berbeda adalah lokasinya yang berada di satu gedung bersama tempat ibadah dan komunitas dari beberapa agama lainnya, termasuk Kristen, Hindu, Buddha, dan Alevisme. Di antara ruang-ruang tersebut terdapat area dialog yang menjadi ruang bersama. Desain Masjid Bern juga cukup modern dan tidak memiliki kubah atau menara seperti yang biasanya ditemukan pada masjid tradisional. Tempat ini menarik untuk dikunjungi karena menunjukkan bagaimana berbagai komunitas agama dapat hidup berdampingan di tengah kota modern Swiss.
Sedang berada di Lausanne? Kamu bisa mampir ke Mosquée de Lausanne yang berlokasi di Passage de Montriond 14, 1006 Lausanne. Letaknya cukup strategis karena berada di area bawah stasiun kereta utama Gare de Lausanne dan hanya sekitar 100 meter dari stasiun metro M2, Grancy. Jadi, masjid ini cukup praktis untuk dikunjungi saat kamu sedang menjelajahi kota.
Masjid ini didirikan sekitar 1979 untuk melayani komunitas Muslim yang mulai berkembang, terutama dari Afrika Utara dan Timur Tengah. Dari luar, bangunannya terlihat cukup menyatu dengan lingkungan perkotaan Swiss dan tidak terlalu menonjolkan bentuk masjid tradisional. Namun, di dalamnya terdapat ruang shalat untuk pria dan wanita, area wudhu, toko buku literatur Islam, serta ruang kelas. Khutbah Jumat dan kajian keagamaan juga disampaikan dalam bahasa Prancis dan Arab.
Masih di area Lausanne, ada Complexe Culturel Musulman de Lausanne (CCML) yang berada di Avenue de la Confrérie 11, 1008 Prilly, di kawasan antara Lausanne dan Renens. Tempat ini bukan hanya berfungsi sebagai masjid, tetapi juga menjadi salah satu pusat kegiatan komunitas Muslim terbesar di wilayah Canton of Vaud.
CCML menjadi tempat berkumpulnya komunitas Muslim dari berbagai latar belakang, termasuk Arab, Eropa, Somalia, Bosnia, Albania, dan berbagai negara Afrika lainnya. Selain kegiatan ibadah, pusat ini juga memiliki berbagai aktivitas komunitas seperti sekolah anak-anak untuk belajar bahasa Arab, kelas Al-Qur'an untuk wanita, kegiatan kebudayaan, konferensi, hingga program olahraga. Jadi, tempat ini bisa memberikan gambaran tentang kehidupan komunitas Muslim di Swiss, bukan hanya sebagai tempat untuk shalat.
Kalau perjalananmu berlanjut ke Basel, kamu juga bisa menemukan berbagai tempat ibadah Muslim di kota ini. Salah satu lokasi yang sering dirujuk adalah Klybeckstrasse 1 di kawasan Klein-Basel. Selain itu, terdapat pula pusat ibadah seperti Hicret Camii di Güterstrasse.
Menariknya, banyak tempat ibadah Muslim di Basel beradaptasi dengan lingkungan perkotaan Swiss. Beberapa bangunan menggunakan gedung modern, ruko, atau bekas fasilitas industri yang bagian dalamnya diubah menjadi ruang ibadah dan komunitas. Dari luar mungkin tidak terlihat seperti masjid tradisional, tetapi di dalamnya terdapat karpet untuk shalat, penanda arah kiblat, kaligrafi, hingga ruang untuk kegiatan komunitas. Kawasan ini juga dikelilingi berbagai kafe dan restoran, sehingga kamu bisa dengan mudah melanjutkan perjalanan setelah selesai beribadah.
Kalau kamu baru tiba di Swiss atau sedang transit di Zurich Airport (ZRH), kamu juga tidak perlu bingung mencari tempat untuk shalat. Bandara ini menyediakan ruang doa multikepercayaan yang bisa digunakan oleh penumpang maupun pengunjung dari berbagai latar belakang agama.
Di area Check-in Area 1 & 3, yang berada di zona publik atau landside, tersedia prayer room yang dapat digunakan secara gratis dan buka selama 24 jam. Ada juga ruang doa di Gate D, tepatnya di lantai 1 area non-Schengen dekat Transit Hotel. Ruangan ini dilengkapi karpet untuk shalat dan buku-buku doa. Untuk fasilitas wudhu, sebagian area mungkin tidak memiliki tempat wudhu khusus di dalam prayer room, sehingga kamu bisa menggunakan toilet umum terdekat.
Selain Zurich, Geneva Airport (GVA) juga menyediakan fasilitas yang cukup membantu bagi traveler yang membutuhkan tempat untuk beribadah atau sekadar mencari ruang tenang sebelum penerbangan. Prayer room di bandara ini berada di Transit Area, Mezzanine Level, dekat area lounge maskapai.
Ruang ini merupakan prayer and quiet room yang bersifat netral dan bisa digunakan oleh orang dari berbagai keyakinan. Fasilitas ini dibuka setiap hari mulai sekitar 04.00 pagi hingga penerbangan terakhir, sehingga cukup praktis untuk traveler yang memiliki jadwal penerbangan pagi atau malam. Kalau kamu sedang mengejar penerbangan setelah liburan musim dingin di Swiss, fasilitas seperti ini tentu sangat membantu.
Baca juga : Swiss Jadi Destinasi Paling Romantis Menggantikan Prancis, Ini Wisata Yang Harus Dikunjungi
Ternyata Switzerland punya sisi yang cukup menarik untuk Muslim traveler. Selain menawarkan pemandangan Pegunungan Alpen, kota-kota cantik, dan berbagai pengalaman winter yang memorable, Swiss juga memiliki banyak masjid serta prayer room yang bisa membantu kamu tetap nyaman menjalankan ibadah selama perjalanan.
Jadi, kalau kamu masih ragu untuk liburan musim dingin ke Switzerland karena khawatir sulit mencari tempat shalat, mungkin sekarang saatnya memasukkan Swiss ke bucket list. Sebelum berangkat, kamu bisa mencatat lokasi masjid dan prayer room yang paling dekat dengan itinerary agar perjalanan tetap nyaman, praktis, dan tetap bisa menikmati indahnya Swiss tanpa meninggalkan kebutuhan ibadah.
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Ini dia daftar negara yang bisa kamu kunjungi tanpa pengurusan visa fisik di kedubes dengan paspor Indonesia kamu! Bebas visa fisik ke negara-negara terkenal seperti Maldives, Jepang dan Hong Kong dan lainnya lho!
Ini dia 10 gunung yang harus kamu daki di Indonesia untuk melihat pemandangan mempesona negara kita! Mulai dari gunung yang mudah didaki hingga gunung yang tersusah untuk dijajahi!
Lupakan Perancis dan Inggris! Kunjungi 10 negara di Eropa ini yang tidak kalah cantik tapi jauh lebih murah dan luar biasa saja.
Siapa bilang tidak ada yang bisa dilihat di Surabaya? Ini dia 10 tempat di Surabaya yang harus kamu kunjungi!
Artikel ini dikontribusikan dan ditranslasikan oleh Seoul Wanderlust Stories. For the English version of this article, read it here. Ini dia 10 tempat di Seoul favoritku yang bisa dijadikan background keren untuk foto Instagram kamu! Nota: Tempat-tempat disini hanya tempat yang pernah saya kunjungi langsung. Di akhir daftar, saya akan memasukkan beberapa tempat ekstra yang instagramable juga tapi […]
Dari view pantai hingga pepohonan hijau.
Dari pasar tradisional yang ramai hingga mall-mall megah.
Penasaran cara ke pusat kota dari bandara? Simak di sini!
Salah satu caranya adalah mengikuti walking tour gratis yang dipandu mahasiswa.
Daging yang juicy, dibalut di dalam daun selada renyah, ditambah potongan kimchi.