Dengan tingginya tingkat penularan Covid-19 di Indonesia karena adanya varian delta, tidak ada salahnya memiliki alat sanitasi pencegah ini di rumah kamu!

Pernah nggak sih kamu merasa jantung berdebar kencang saat mau berangkat ke kantor, atau tiba-tiba merasa mulas setiap kali nama bos muncul di layar HP? Kalau iya, kamu nggak sendirian. Fenomena kecemasan di tempat kerja atau workplace anxiety ini makin sering terjadi di dunia kerja yang serba cepat sekarang. Berdasarkan data, kecemasan adalah isu nomor satu yang dialami para pekerja, bahkan angkanya melampaui depresi dan masalah keluarga. Analisis terhadap hampir 300.000 orang menunjukkan bahwa hampir seperempat karyawan menderita gangguan kesehatan mental ini.
Yuk, kita bahas tuntas apa itu kecemasan di tempat kerja, kenapa itu bisa terjadi, dan gimana cara menghadapinya biar hidup kamu tetap seimbang!

Secara sederhana, kecemasan di tempat kerja adalah rasa gelisah atau khawatir berlebihan yang muncul terkait pekerjaan. Sebenarnya, merasa sedikit tegang sebelum presentasi besar itu normal dan merupakan bentuk antisipasi alami tubuh terhadap hal yang tidak terduga. Tapi, rasa cemas ini jadi masalah kalau sudah mulai mengganggu fungsi harian dan produktivitas kamu.
Kecemasan ini bisa mencakup banyak aspek, mulai dari rasa takut salah saat mengerjakan tugas, kekhawatiran akan penilaian rekan kerja, hingga perasaan tidak aman soal posisi pekerjaan kamu. Kalau dibiarkan terus-menerus tanpa penanganan, kondisi ini nggak cuma merusak performa kerja, tapi juga bisa menghambat karier kamu ke depannya.
Kecemasan nggak cuma ada di pikiran, tapi juga sering "berteriak" lewat tubuh kita. Gejala yang muncul bisa berbeda-beda pada setiap orang, tergantung kondisi fisik dan mental masing-masing.
1. Gejala Emosional dan Mental
Khawatir Berlebihan: Merasa cemas terus-menerus soal deadline atau hasil kerja, bahkan sampai nggak bisa dikontrol.
Sulit Konsentrasi: Pikiran sering melayang atau susah fokus karena terlalu fokus pada ketakutan akan kegagalan.
Perasaan Ingin Sempurna (Perfectionism): Merasa harus selalu sempurna dan takut banget kalau ada kesalahan kecil.
Imposter Syndrome: Merasa diri kamu itu "penipu" dan takut orang lain bakal sadar kalau kamu nggak sekompeten itu.
Kehilangan Minat: Mulai nggak semangat atau malas mengerjakan hal-hal yang dulu kamu sukai di kantor.
2. Gejala Fisik
Gangguan Tidur: Susah tidur (insomnia) karena otak terus-terusan memikirkan tanggung jawab kerja.
Mudah Lelah: Capek yang nggak hilang-hilang meskipun kamu sudah istirahat cukup.
Masalah Pencernaan: Perasaan seperti ada "kupu-kupu" di perut, mual, atau sakit perut akibat stres.
Ketegangan Otot: Sakit kepala atau otot pundak terasa kaku.
Keringat Berlebih dan Gemetar: Tubuh bereaksi secara fisik saat menghadapi pemicu cemas.
Penyebab kecemasan di tempat kerja biasanya adalah kombinasi dari faktor lingkungan dan kondisi internal diri kita sendiri.
Beban Kerja yang Berlebihan: Dikasih tugas numpuk yang kadang nggak sesuai dengan latar belakang atau kemampuan kita bisa bikin stres berat.
Deadline yang Terlalu Ketat: Dikejar waktu yang nggak realistis bikin seseorang merasa tertekan dan depresi.
Ketidakpastian Lingkungan: Perubahan cara kerja (seperti sistem hybrid) atau ketidaktahuan akan ekspektasi atasan menciptakan rasa tidak nyaman.
Lingkungan yang Tidak Mendukung: Konflik dengan rekan kerja atau punya bos yang terlalu otoriter adalah pemicu utama.
Faktor Eksternal: Isu ekonomi, inflasi, atau memori tentang pandemi bikin orang khawatir soal keamanan kerja dan biaya hidup.
Sifat Kepribadian: Orang yang punya sifat people pleaser (suka menyenangkan orang lain) atau pencapaian tinggi sering kali lebih rentan terkena cemas.
Jangan anggap remeh rasa cemas ini. Kalau dicuekin, dampaknya bisa merembet ke mana-mana:
Produktivitas Menurun: Energi kamu habis buat cemas, jadi tugas utama malah terbengkalai.
Suka Menunda (Procrastination): Karena takut gagal atau merasa terbebani, kamu jadi sering menunda pekerjaan.
Menarik Diri dari Sosial: Kamu jadi malas kumpul bareng teman atau keluarga dan terlihat lebih murung.
Masalah Kesehatan Serius: Stres berkepanjangan bisa memicu penyakit fisik yang lebih parah.

Kabar baiknya, kecemasan ini bisa dikelola! Berikut beberapa tips praktis yang bisa kamu coba:
Identifikasi Sumbernya: Coba catat kapan kamu merasa paling cemas. Apakah saat cek email di pagi hari atau saat meeting sore? Dengan tahu pemicunya, kamu bisa lebih siap.
Teknik Relaksasi Pernapasan: Saat mulai merasa sesak atau cemas, coba teknik deep breathing (napas dalam). Ini sangat efektif untuk menenangkan sistem saraf dan membuat tubuh lebih rileks.
Atur Skala Prioritas: Jangan mencoba jadi pahlawan dengan mengerjakan semuanya sendirian. Belajarlah mendelegasikan tugas dan buat daftar prioritas yang realistis.
Pasang Batasan (Boundaries): Jangan bawa pekerjaan ke rumah. Berhenti cek email atau pesan kantor setelah jam kerja selesai biar otak punya waktu buat istirahat.
Pecah Tugas Besar Jadi Kecil: Proyek besar sering bikin kita kewalahan. Pecah jadi langkah-langkah kecil dan jangan lupa kasih apresiasi buat diri sendiri setiap kali satu langkah selesai.
Cari Support System: Cerita ke teman kantor yang kamu percaya. Terkadang, berbagi beban bisa bikin perasaan jauh lebih ringan.
Jalankan Pola Hidup Sehat: Tidur cukup, makan makanan bergizi, dan olahraga teratur (seperti jalan kaki atau yoga) punya pengaruh besar buat kesehatan mental.
Memang ada kalanya usaha sendiri nggak cukup. Kamu harus mulai mempertimbangkan untuk mencari bantuan profesional jika:
Rasa cemas sudah sangat mengganggu tidur dan pola makan kamu.
Hubungan dengan pasangan, keluarga, atau teman mulai retak gara-gara kamu terlalu stres.
Perasaan cemas ini sudah berlangsung selama lebih dari 6 bulan secara terus-menerus.
Kamu mulai merasa nggak berdaya atau merasa kecemasan ini sudah nggak bisa dikontrol lagi.
Jangan malu atau takut dianggap lemah. Mencari bantuan adalah bentuk kasih sayang buat diri sendiri. Kamu bisa mulai dari:
Employee Assistance Program (EAP): Coba cek ke bagian HRD, beberapa perusahaan punya program konseling gratis buat karyawannya.
Psikolog atau Terapis: Kamu bisa melakukan sesi psikoterapi untuk belajar mengelola pikiran negatif.
Dokter atau Psikiater: Jika kecemasan sudah sangat parah, dokter mungkin akan menyarankan pengobatan medis untuk membantu menyeimbangkan kondisi kimiawi di otak.
Baca juga: Post Holiday Blues, "Penyakit" Dadakan Yang Tak Boleh Diremehkan
Kecemasan di tempat kerja adalah hal yang umum dialami oleh banyak orang, tapi bukan berarti kamu harus menderita dalam diam. Dengan mengenali gejalanya sejak dini dan tahu cara mengatasinya, kamu bisa kembali bekerja dengan lebih tenang dan produktif. Ingat, kesehatan mental kamu jauh lebih penting daripada tumpukan tugas di meja kantor. Take a deep breath, you've got this!
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Dengan tingginya tingkat penularan Covid-19 di Indonesia karena adanya varian delta, tidak ada salahnya memiliki alat sanitasi pencegah ini di rumah kamu!
Yang doyan berkegiatan di luar ruang, termasuk di antaranya para traveler, body lotion dari Amanda Manopo ini bisa membantu menjaga kulit kamu, lho!
Sejumlah protokol kesehatan memang sudah ditetapkan, namun amankah naik pesawat di tengah pandemi Covid-19 seperti sekarang ini?
Jika tidak ditangani dengan tepat, mereka yang terserang angin duduk bisa meninggal dunia, lho!
Bali Belly bisa menjadi kondisi yang serius jika tidak ditangani segera. Apa sih Bali Belly itu?
Cita rasa khas Jepang terjaga, sesuai syariah pula!
Keliling Pasar Santa, dijamin bakal pulang dengan kenyang
Tinggal sentuh tombol rekam, kamu bisa langsung menjadi travel vlogger betulan!
Tesktur yang buttery dijamin nagih.
Liburan sambil menambah pengetahuan? Mengunjungi museum jawabannya!