Yuk eksplore ibu kota kuno Korea!!

Punya jadwal padat tapi kangen suasana alam? Kalau jawabannya iya, maka naik gunung tektok adalah pilihan yang paling pas buat kamu.
Ya, dalam beberapa tahun terakhir, tren pendakian gunung di Indonesia mengalami pergeseran yang cukup signifikan. Jika dahulu mendaki identik dengan membawa beban berat dan berkemah berhari-hari, kini muncul istilah yang sangat populer di kalangan pendaki urban dan milenial, yaitu naik gunung tektok.
Naik gunung tektok adalah cara cerdas untuk tetap terhubung dengan alam di tengah kesibukan. Dengan persiapan fisik yang matang dan perlengkapan yang tepat, kamu bisa mendapatkan pengalaman mendaki yang seru, aman, dan penuh cerita!
Tapi, apa sih sebenarnya naik gunung tektokan ini, tren yang kabarnya lagi hits banget di kalangan pendaki, mulai dari yang pemula sampai yang sudah pro. Yuk, simak kupas tuntasnya di sini!

Image credit: Pexels
Secara harfiah, dalam percakapan sehari-hari, istilah "tektok" sering digunakan untuk menggambarkan komunikasi yang lancar atau koordinasi yang cepat. Namun, dalam konteks pendakian, naik gunung tektok merujuk pada aktivitas naik dan turun gunung yang diselesaikan dalam waktu singkat, biasanya satu hari, tanpa menginap atau berkemah di jalur pendakian.
Istilah ini juga dikenal dengan sebutan one day hike. Meskipun mayoritas dilakukan dalam satu hari, beberapa pendaki mendefinisikan tektok sebagai perjalanan yang tidak melibatkan aktivitas camping, meskipun durasinya bisa lebih dari 24 jam dalam kasus tertentu, seperti saat mendaki dua gunung sekaligus secara berurutan.
Kegiatan naik gunung tektok ini terbuka bagi siapa saja, mulai dari pendaki pemula yang ingin mencicipi petualangan singkat tanpa ribet berkemah hingga para trail runner yang menjadikan gunung sebagai arena latihan fisik profesional. Selain itu, metode ini sangat ideal bagi para pekerja urban dengan jadwal padat yang ingin melakukan healing sejenak namun tetap mengutamakan efisiensi waktu perjalanan.
Meski begitu, alam tidak memandang usia baik Gen Z maupun Baby Boomer, sehingga yang terpenting adalah kesiapan stamina fisik yang prima dan pemahaman mendalam mengenai manajemen risiko di jalur pendakian.
Kepopuleran metode tektok tidak lepas dari beberapa faktor kunci:
Efisiensi Waktu: Metode ini menjadi solusi ideal bagi pendaki yang memiliki jadwal padat atau waktu libur yang sangat terbatas tetapi tetap ingin menikmati suasana alam.
Kepraktisan: Karena tidak menginap, pendaki tidak perlu membawa perlengkapan berat seperti tenda, sleeping bag, matras, atau alat masak yang besar.
Tantangan Fisik: Bagi sebagian orang, tektok adalah cara untuk menguji stamina dan kecepatan, bahkan menjadi ajang latihan bagi para trail runner (pelari gunung).
Penting untuk memahami bahwa meskipun serupa, tektok memiliki karakteristik yang berbeda dengan jenis aktivitas jalan kaki lainnya di alam bebas:
Trekking: Lebih intens, durasi lama (bisa berhari-hari hingga berbulan-bulan), dan medannya jauh lebih menantang.
Hiking: Aktivitas berjalan menyusuri jalur setapak untuk rekreasi atau healing, biasanya berpindah dari satu pos ke pos lain dengan durasi yang lebih santai dibanding tektok.
Tektok: Mengutamakan kecepatan dan efisiensi, dengan durasi tersingkat dan persiapan perlengkapan yang paling minimalis dibandingkan keduanya.
Meskipun terlihat sederhana, naik gunung tektok sebenarnya menuntut persiapan yang sangat matang. Karena dilakukan dalam waktu singkat, tubuh dipaksa untuk menyelesaikan elevasi yang tinggi dalam waktu cepat, yang membutuhkan stamina fisik dan manajemen waktu yang prima.
Persiapan fisik menjadi kunci utama karena pendaki harus memiliki kapasitas paru-paru (VO2 Max) dan kekuatan otot kaki yang baik. Selain itu, pendaki harus mewaspadai dua jenis bahaya: bahaya subjektif (kesiapan diri sendiri) dan bahaya objektif (kondisi alam/gunung itu sendiri). Salah satu strategi manajemen risikonya adalah dengan memulai pendakian sejak subuh atau dini hari untuk mendapatkan udara segar dan cadangan waktu yang cukup sebelum hari gelap.

Waktu adalah elemen paling krusial dalam keberhasilan naik gunung tektok, sehingga kamu disarankan untuk memulai perjalanan sejak dini hari atau subuh, sekitar pukul 04.00 hingga 06.00 pagi. Memulai start lebih awal memberikan kamu keuntungan ganda: pertama, udara pegunungan masih sangat segar untuk dihirup, dan kedua, kamu memiliki cadangan waktu yang cukup jika seandainya terjadi kendala tak terduga di tengah jalur. Pendakian pagi hari juga efektif untuk meminimalisir risiko kelelahan ekstrem akibat paparan terik matahari siang yang sering kali menguras energi tubuh dengan cepat.
Selain faktor jam keberangkatan, kamu harus sangat memperhatikan prakiraan cuaca dan kondisi musim sebelum memutuskan untuk berangkat. Cuaca yang buruk bukan hanya merusak momen healing, tetapi juga bisa membahayakan keselamatan karena jalur yang menjadi licin atau tertutup tanah longsor. Selalu siapkan rencana cadangan atau jangan ragu untuk menunda perjalanan jika kondisi alam sedang tidak bersahabat, karena keamanan harus tetap menjadi prioritas utama di atas ambisi mencapai puncak.
Pemilihan waktu juga berkaitan erat dengan momen yang ingin kamu tangkap, seperti fenomena golden hour atau matahari terbit yang mempesona. Banyak pendaki tektok yang mengejar sunrise di puncak agar bisa segera turun sebelum cuaca berubah menjadi mendadak gelap atau berkabut tebal di sore hari. Dengan manajemen waktu yang presisi, kamu bisa menikmati keindahan alam secara optimal dan kembali ke basecamp dalam kondisi fisik yang tetap stabil sebelum hari berakhir,.
Persiapan untuk naik gunung tektok harus dilakukan secara matang dan serius meskipun durasi pendakiannya singkat, karena aktivitas ini menguras energi fisik dan menuntut manajemen waktu yang presisi. Berikut adalah poin-poin persiapan penting yang harus kamu lakukan berdasarkan sumber yang tersedia:
Olahraga Teratur: Lakukan latihan fisik secara rutin sebelum mendaki, seperti jogging, bersepeda, atau latihan otot untuk meningkatkan daya tahan tubuh dan kapasitas paru-paru.
Kondisi Tubuh Prima: Pastikan kamu dalam keadaan sehat dan tidak begadang atau kurang tidur pada malam sebelum keberangkatan.
Nutrisi: Konsumsi makanan bergizi, termasuk asupan daging untuk kekuatan tulang.
Pemilihan Gunung: Bagi pemula, pilihlah gunung dengan ketinggian 1.000—2.000 mdpl yang memiliki jalur resmi, trek jelas, dan tingkat kesulitan rendah hingga menengah.
Manajemen Waktu: Rencanakan untuk memulai pendakian sejak subuh atau dini hari (pukul 04.00—06.00) agar mendapatkan udara segar dan memiliki cadangan waktu jika terjadi kendala di jalur.
Cek Kondisi Cuaca: Selalu periksa prakiraan cuaca dan pastikan jalur tidak tertutup longsor atau kendala alam lainnya sebelum berangkat.
Perizinan: Lakukan riset mengenai regulasi khusus, seperti izin pendakian atau peraturan lingkungan yang berlaku di gunung tujuan.
Tas Punggung (Daypack): Gunakan tas berkapasitas 15—30 liter yang memiliki chest strap dan bantalan punggung yang nyaman.
Pakaian yang Tepat: Kenakan pakaian berbahan dry-fit (polyester/nylon) yang ringan, mudah kering, dan menyerap keringat. Hindari bahan katun yang berat saat basah.
Alas Kaki: Wajib menggunakan sepatu gunung atau sepatu hiking dengan grip yang kuat untuk menghadapi medan licin dan berbatu.
Alat Pendukung: Bawa headlamp (senter kepala) untuk pendakian dini hari, alat navigasi (peta/kompas/GPS), dan trekking pole untuk membantu keseimbangan saat turun.
Air Minum: Bawa minimal 1,5—2 liter air atau disesuaikan dengan kebutuhan dan durasi perjalanan.
Makanan Berenergi: Siapkan camilan praktis yang tinggi energi seperti cokelat, kurma, biskuit gandum, atau energy bar, serta makanan siap saji untuk makan siang.
Kesehatan: Selalu bawa kotak P3K mini berisi obat-obatan pribadi, plester, dan antiseptik.
Mendaki Bersama Tim: Sangat disarankan untuk tidak mendaki sendirian, terutama bagi pemula. Mendaki bersama teman atau tim pendahulu dapat meningkatkan faktor keselamatan.
Komunikasi: Beritahu keluarga atau teman mengenai rencana perjalanan dan rute yang kamu ambil.
Etika Alam: Terapkan prinsip Leave No Trace dengan tidak meninggalkan sampah apa pun di gunung.
Sebagai tambahan informasi di luar sumber yang Anda berikan, Anda mungkin perlu melakukan pengecekan ulang terhadap ketersediaan sumber air di sepanjang jalur pendakian yang dipilih, karena beberapa gunung tektok tidak memiliki mata air di jalurnya, sehingga seluruh kebutuhan air harus dibawa sejak dari basecamp.

Berdasarkan sumber yang ada, pemilihan gunung untuk naik gunung tektok sebaiknya disesuaikan dengan tingkat kemampuan fisik, di mana bagi pemula disarankan memilih gunung dengan ketinggian 1.000—2.000 mdpl yang memiliki jalur resmi dan waktu tempuh pendakian antara 2 hingga 4 jam.
Berikut adalah daftar rekomendasi gunung yang cocok untuk aktivitas tektokan di berbagai wilayah:
Wilayah Jawa Barat memiliki banyak pilihan favorit karena aksesnya yang relatif mudah:
Gunung Kencana (Bogor): Menjadi primadona bagi pendaki muda karena hanya membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga 1 jam dari basecamp untuk mencapai puncaknya di ketinggian 1.803 mdpl.
Gunung Batu (Bogor): Sangat pendek dan asri, hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar 3 jam pulang-pergi.
Gunung Papandayan (Garut): Cocok untuk tektokan santai selama 6—8 jam dengan bonus pemandangan kawah, hutan mati, dan padang edelweiss.
Gunung Parang: Dengan ketinggian 963 mdpl, gunung ini menawarkan tantangan yang bisa diselesaikan dalam waktu 4 jam pendakian.
Gunung Burangrang (Lembang): Bagi yang ingin menguji stamina, pendakian tektok di sini memakan waktu sekitar 5—7 jam dengan suguhan hutan pinus.
Gunung Gede (Cianjur/Sukabumi): Meskipun cukup tinggi (2.958 mdpl), pendaki berpengalaman bisa tektokan via jalur Cibodas atau Gunung Putri dengan estimasi waktu sekitar 8 jam pulang-pergi.
Pilihan lainnya: Gunung Galunggung yang ikonik dengan ratusan anak tangga, Gunung Guntur yang dijuluki "miniatur Semeru", serta Gunung Tangkuban Perahu yang sangat ramah keluarga.
Jalur di wilayah ini cenderung memiliki pemandangan sabana yang luas:
Gunung Prau (Dieng): Salah satu lokasi terpopuler untuk mengejar matahari terbit dengan waktu tempuh tektok sekitar 4 hingga 6 jam.
Gunung Andong (Magelang): Sangat direkomendasikan untuk pemula karena puncaknya bisa dicapai dalam durasi 3 sampai 5 jam saja.
Gunung Nglanggeran (Yogyakarta): Merupakan gunung api purba yang hanya membutuhkan waktu sekitar 1 hingga 3 jam untuk perjalanan pulang-pergi.
Gunung Merbabu: Menawarkan jalur yang bervariasi namun tetap nyaman bagi pemula yang ingin tantangan lebih tanpa harus ekstrem.
Gunung Batur (Bali): Menjadi lokasi favorit pendakian dini hari untuk melihat Danau Kintamani dari ketinggian; durasi tektoknya berkisar antara 3 hingga 6 jam.
Gunung Bromo (Jawa Timur): Sangat bersahabat bagi pemula karena jalurnya yang santai melewati lautan pasir dan kawah.
Gunung Sari (Kalimantan Barat): Lokasi pendakian yang sangat unik karena hanya memiliki ketinggian 30 meter dengan jalur landai yang bisa diselesaikan dalam hitungan jam.
Atur Ritme Konsisten: Gunakan teknik jalan santai namun stabil tanpa banyak berhenti agar stamina tetap awet hingga kembali ke bawah.
Fokus Saat Turun: Ingatlah bahwa menuruni jalur memberikan tekanan besar pada lutut, jadi turunkan tempo dan jaga pijakan dengan hati-hati.
Etika Alam: Terapkan prinsip Leave No Trace—jangan mengambil apapun selain foto dan jangan meninggalkan apapun selain jejak kaki.
Sadar Kemampuan: Jangan paksakan diri jika kondisi fisik drop atau cuaca memburuk; kembali ke basecamp adalah keputusan bijak karena gunung tidak akan lari ke mana.
Baca juga: Perlengkapan Mendaki Gunung Yang Tidak Boleh Dilupakan
Sebagai penutup, naik gunung tektok adalah pilihan cerdas untuk melepas penat di tengah kesibukan urban. Namun, ingatlah bahwa tujuan utama mendaki bukan hanya mencapai puncak secepat mungkin, melainkan kembali ke rumah dengan selamat. Persiapan yang matang, kesadaran diri akan kemampuan fisik, serta tetap mematuhi etika alam seperti prinsip Leave No Trace adalah hal yang wajib diutamakan.
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Yuk eksplore ibu kota kuno Korea!!
Alat bantu ini akan membuat tidurmu di kereta, pesawat atau bus jadi lebih nyaman, deh!
Siapkan Dirimu Menyelami Keajaiban Bawah Laut Manado!
rayakan malam tahun baru yang meriah di negara lain
fine dining dengan pemandangan kota yang menakjubkan!
Ikuti momentum perayaan nan magis umat Hindu Bali yang fenomenal ini!
Masukkan daftar spot wisata terbaru Dieng ini dalam daftar itinerary liburanmu berikutnya!
Siapa sangka Vietnam punya kota pesisir sebagus ini?
Cara berbeda dan nggak membosankan untuk menjelajahi Korea Selatan.
Ciptakan momen tak terlupakan bersama orang terkasih.