Sydney memang kota yang tidak murah untuk dikunjungi tapi bukan berarti liburan hemat ke Sydney itu mustahil! Simak beberapa tips ini untuk memastikan liburanmu ke Sydney sesuai budget kamu.

Cuma punya waktu satu hari untuk menjelajahi Kota Jogja? Itinerary ini mungkin cocok untukmu. Kalau biasanya orang langsung menuju Malioboro, kali ini saya akan membagikan pengalaman menjelajahi Jogja dengan rute yang sedikit berbeda. Saya memulai hari dari sisi historis di Selatan menuju pusat keramaian kota dan mencoba merangkum semuanya dalam waktu 12 jam saja.
Baca juga: 10 Aktivitas Wisata Anti-Mainstream di Jogja, Untuk Liburan Berkesan
Bagi saya, cara terbaik untuk menikmati Jogja adalah dengan bangun lebih pagi dan membiarkan kaki melangkah. Ya, liburan saya kali ini akan diisi dengan banyak berjalan kaki. Tapi, tenang saja, agenda-agendanya ramah untuk kamu yang mudah lelah. Yuk, ikuti perjalanan saya menjelajahi Kota Jogja!
Pagi saya dimulai di Pasar Legi Kotagede. Suasananya ramai khas pasar tradisional tapi udaranya masih terasa sejuk karena matahari belum terlalu terik. Sebenarnya saya ke sini adalah untuk mencicipi Gule Sar Legi yang sedang ramai dibicarakan itu, tapi ternyata mereka baru buka jam 9 pagi.
Kecewa? Sedikit, namun tujuan utama saya sebenarnya terletak di dalam lorong-lorong pasar. Di salah satu lorongnya, saya akhirnya bertemu dengan penjual jamu yang meracik pesanannya langsung dengan cara memeras berbagai campuran rempah. Karena saya bukan penggemar rasa pahit, saya memesan segelas Beras Kencur saja. Rasanya segar, hangat di badan, dan porsinya cukup banyak karena disajikan pakai batok kelapa. Harganya? Cuma Rp5.000 saja! Jika lapar (atau jamu pesananmu terasa terlalu pahit), mereka juga menjual beberapa jajanan pasar.
Setelah itu, saya memutuskan jalan kaki sekitar lima menit menuju kompleks Makam Raja-Raja Mataram.
Area pertama yang saya temui adalah Masjid Gedhe Mataram. Karena masih pagi, suasananya damai sekali, hanya ada suara kicauan burung yang hinggap di pohon-pohon besar. Masjid ini adalah masjid tertua di Jogja yang dibangun pada masa Panembahan Senapati, dan sampai sekarang masih aktif digunakan untuk beribadah.
Lanjut masuk ke area dalam, terdapat kompleks makam yang dikelilingi tembok tinggi dan gerbang. Sayangnya, area makam baru dibuka untuk umum di atas jam 10 pagi, jadi saya hanya bisa berkeliling di bagian pelatarannya saja. Masuk ke sini gratis, cukup memberikan donasi seikhlasnya. Perlu dicatat, kalau nanti kamu mau masuk ke dalam area makam, ada beberapa aturan yang harus dipatuhi. Dua di antaranya adalah wajib melepas alas kaki dan dilarang memotret bagian dalam.
Suasananya yang damai dan syahdu benar-benar menghanyutkan. Saya menyarankan datang di pagi hari jika kamu ingin merenung dan menjelajah dengan tenang.
Hanya berjarak 5 menit jalan kaki dari kompleks makam, saya sampai di kawasan Between Two Gates. Sepanjang jalan menuju ke sini, saya banyak menemukan mural-mural lucu yang sangat Instagramable untuk difoto.
Sesuai namanya, tempat ini adalah lorong pemukiman kuno yang diapit oleh gerbang. Di sini, rumah-rumah tradisional khas Kotagede masih sangat asli dan terawat dengan baik.
Suasananya sepi dan syahdu, membuat saya merasa kembali ke masa lalu. Karena ini adalah area pemukiman warga, pastikan tetap jaga sikap, jangan berisik, dan jangan membuang sampah sembarangan ya!
Setelah puas jalan kaki, saya memutuskan untuk beristirahat di Lokanusa Kotagede. Kafe ini punya vibes yang asyik karena bangunannya terbuka dan menyatu dengan pepohonan yang rindang. Di sini, saya memesan Nasi Ayam Ketumbar dan es teh manis. Menunya terlihat sederhana, tapi rasanya benar-benar mantap dan cukup untuk ukuran sarapan yang agak telat.
Menariknya, di Lokanusa kita bisa meracik teh sendiri atau membeli bumbu marinasi serta sirup buatan mereka sebagai buah tangan. Mereka juga punya jasa penyewaan kebaya yang gemas kalau kamu mau foto-foto dengan gaya tradisional, tapi jangan lupa harus reservasi dulu sebelumnya.
Perjalanan berlanjut ke arah Prawirotaman, dan saya mampir sebentar ke ViaVia Bakery. Awalnya hanya ingin cari yang manis-manis seperti pastry dan rotinya yang terkenal enak, tapi ternyata isinya lebih dari sekadar toko roti.
Mereka menjual berbagai rempah kering seperti bunga lawang dan cengkeh, aneka selai rumahan, sampai kacang-kacangan. Rasanya ingin saya borong semua!
Masih di kawasan yang sama, mata saya langsung tertuju pada toko bernama Oasis Group. Dari luar saja sudah terlihat estetik dengan gantungan lampu dari anyaman bambu dan baju-baju pantai. Masuk ke dalamnya, suasananya persis seperti toko kerajinan di pinggir pantai.
Ada banyak dream catcher, kerajinan dari kerang, topi rajut, sampai perhiasan buatan tangan. Koleksinya sangat banyak dan padat, jadi kamu harus sabar menjelajahi dari satu rak ke rak lainnya untuk menemukan harta karun yang paling kamu suka.
Matahari Jogja mulai menyengat, saatnya cari yang dingin! Belum sah ke Jogja kalau tidak ke Tempo Gelato. Di sini sistemnya bayar dulu di kasir, pilih ukuran (cup atau cone), baru antre pilih rasa di etalase es krim. Saya sempat bingung karena pilihannya yang banyak, untungnya kita boleh mencoba maksimal dua rasa sebelum menentukan pilihan. Interiornya yang klasik dan AC yang sejuk membuat tempat ini jadi spot terbaik buat recharge energi sebelum melanjutkan perjalanan.
Setelah sempat mampir sebentar ke Plaza Malioboro untuk berteduh, begitu sore tiba saya langsung menuju Jalan Malioboro.
Tujuan utama: Bakpia Tugu Jogja! Saya memborong bakpia kukus mereka yang lembut dan Brownies Panggang untuk oleh-oleh orang rumah.
Di dekat toko Lumpia Malioboro, saya menemukan photobooth unik yang hasilnya dicetak di kertas ukuran besar mirip koran. Hasilnya benar-benar keren, tapi karena kertasnya lebar, saran saya simpan di agenda terakhir saja atau bawa tas belanja besar supaya fotonya tidak rusak saat dibawa jalan.
Saya juga mampir ke Batik Hamzah. Buat yang bawa banyak barang belanjaan, mereka punya tempat penitipan barang yang sangat membantu. Di sini, batiknya tidak hanya model daster atau formal saja, tapi banyak desain modern dan santai yang cocok dipakai buat nongkrong sehari-hari.
Malam harinya, setelah mandi dan taruh barang di hotel, saya kembali ke area Malioboro untuk berburu makan malam. Pilihan jatuh pada Oseng Oseng Mercon Bu Titik atas rekomendasi seorang teman. Oseng mercon di sini merupakan tipe yang berkuah, benar-benar sedap disiram ke atas nasi. Pedasnya nendang tapi masih "sopan" di lidah, bukan yang bikin tersiksa. Dagingnya sungguh lembut, terlebih jika diaduk ke nasi hangat pakai kerupuk dan timun. Juara!
Menutup hari, saya berjalan kaki santai menuju Titik Nol Kilometer. Suasana akhir pekan di sini ramai sekali. Banyak keluarga duduk-duduk santai menikmati malam. Saya sempat berhenti sejenak menonton pertunjukan musik jalanan yang penyanyinya berpenampilan sangat eksentrik. Benar-benar penutup hari yang sempurna sebelum saya kembali ke penginapan
Pakai Sunscreen! Matahari Jogja itu cukup menyengat di siang hari. Jangan lupa pakai tabir surya, serta bawa topi dan kacamata hitam agar tetap nyaman saat eksplorasi outdoor.
Alas Kaki yang Nyaman. Karena itinerary ini didominasi jalan kaki (terutama di area Kotagede dan Malioboro), pastikan pakai sneakers atau flat shoes yang empuk.
Bawa Totebag. Bawa tas lipat atau totebag cadangan untuk menampung semua belanjaan dan oleh-oleh kamu supaya tidak repot menenteng banyak kantong.
Siapkan Air Minum. Selalu bawa botol minum sendiri supaya kamu tidak dehidrasi saat harus berjalan di bawah sinar matahari.
Baca juga: 11 Kafe di Kawasan Malioboro Jogja Yang Jadi Favorit Banyak Wisatawan
Menghabiskan satu hari penuh di Jogja memang melelahkan, tapi rasa lelah itu selalu terbayar dengan pengalaman tak terlupakan. Mulai dari ketenangan sejarah di Kotagede hingga kemeriahan malam di Titik Nol, Jogja seperti kota serba ada yang siap untuk menghiburmu hingga larut malam. Semoga itinerary saya ini bisa jadi referensi buat rencana liburanmu selanjutnya ya.
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Sydney memang kota yang tidak murah untuk dikunjungi tapi bukan berarti liburan hemat ke Sydney itu mustahil! Simak beberapa tips ini untuk memastikan liburanmu ke Sydney sesuai budget kamu.
Mau keliling Eropa dan rasakan keromantisan Roma, mencoba makanan lezat Perancis, atau menikmati pemandangan Pegunungan Alpen Swiss? Baca dulu artikel ini!
Pandua lengkap menjelajahi Koridor Salju dan pemandangan unik lainnya di salah satu rute pegunungan terindah di Jepang: Rute Pegunungan Alpen Tateyama.
Merencanakan liburan dengan keluarga tidak susah lagi dengan itinerary Australia ini! Semua happy!
Tidak perlu bingung lagi mencari restoran Halal di Bangkok saat berlibur ke Thailand!
Banyak kuliner hidden gem favorit warga lokal yang ramah dompet.
Bisa naik kendaraan pribadi atau naik kereta.
Surga barang-barang unik.
Buat liburanmu jadi berbeda dengan mengajak anabul ikut serta
Cita rasa kuliner dan atmosfer Labuan Bajo tidak tertandingi!