Pengen ke Jepang dengan budget terbatas? Pastikan kamu menghemat biaya menggunakan beberapa tips hemat jalan-jalan ke Jepang ini!

Siap-siap buat kamu yang hobi liburan ke Negeri Sakura! Jepang sedang mengambil langkah baru untuk memperketat keamanan perbatasan dengan memperkenalkan sistem otorisasi perjalanan baru. Sistem ini untuk sementara diberi nama Japan Electronic System for Travel Authorisation (JESTA). Setelah mendapatkan persetujuan resmi dari Kabinet pada Maret 2026, Jepang kini bersiap untuk mengimplementasikan sistem tersebut secara bertahap.
Baca juga: Ini Tips Berguna Saat Liburan Ke Tokyo Yang Tak Boleh Dilewatkan
Sistem JESTA ini mengadopsi model Electronic System for Travel Authorisation (ESTA) milik Amerika Serikat. Aturan ini akan berdampak bagi wisatawan dari 71 negara yang saat ini memiliki fasilitas bebas visa, termasuk Singapura, Malaysia, Thailand, Amerika Serikat, Inggris, dan Indonesia (khusus pemegang e-paspor, melalui sistem Visa Waiver). Berikut adalah rangkuman hal-hal penting yang perlu kamu ketahui tentang perubahan aturan ini.
Image credit: Aflo Images | Canva Pro
JESTA adalah sebuah platform digital untuk penyaringan awal (pre-screening) wisatawan. Jadi, nantinya kamu tidak bisa lagi sekadar terbang ke Jepang hanya dengan modal paspor saja. Kamu akan diwajibkan untuk mendeklarasikan informasi pribadi, tujuan perjalanan, dan detail rencana masa tinggalmu secara online sebelum naik ke pesawat.
Tujuan utama dari sistem ini adalah untuk mengidentifikasi individu "berisiko tinggi" (seperti mereka yang berpotensi menyalahgunakan masa tinggal atau bekerja secara ilegal) sebelum mereka sampai di wilayah Jepang. Jika sistem memberikan tanda peringatan pada aplikasi seseorang, maka otorisasi elektronik tersebut akan ditolak, dan orang tersebut harus mengajukan visa secara tradisional melalui kedutaan besar.
Salah satu alasan utama di balik kebijakan ini adalah untuk mengurangi angka imigrasi ilegal. Menurut laporan berita setempat, pemerintah Jepang berupaya membatasi jumlah wisatawan yang tinggal melebihi batas waktu yang ditentukan (overstay). Pada Januari 2024, tercatat ada lebih dari 79.000 orang yang tinggal secara ilegal di Jepang, di mana 62,9% di antaranya adalah mereka yang menggunakan status kunjungan jangka pendek.
Melalui inisiatif ini, setiap pelancong wajib mengajukan izin perjalanan sebelum masuk guna mengidentifikasi dan mencegah potensi pelanggaran visa. Wisatawan yang ditandai oleh sistem mungkin tidak akan diizinkan masuk melalui program JESTA dan akan diarahkan untuk mengurus visa reguler.
Image credit: Sam Tan | Canva Pro
Saat ini, wisatawan dari 71 negara bisa masuk ke Jepang tanpa visa. Namun, begitu JESTA resmi diberlakukan, semua wisatawan dari negara-negara tersebut harus mengajukan otorisasi perjalanan jenis baru ini dan melaporkan informasi pribadi mereka sebelum keberangkatan.
Status Saat Ini (April 2026): JESTA belum wajib. Kamu masih bisa masuk ke Jepang dengan aturan bebas visa yang berlaku saat ini (atau menggunakan sistem Visa Waiver untuk wisatawan Indonesia).
Implementasi Wajib: Setelah persetujuan legislatif pada Maret 2026, pemerintah menargetkan sistem ini beroperasi penuh pada akhir tahun 2028.
Fase Uji Coba: Saat ini, fase uji coba back-end sudah mulai aktif. Maskapai penerbangan mulai membagikan manifes penumpang kepada Badan Layanan Imigrasi Jepang saat proses boarding untuk dicocokkan dengan daftar hitam (blacklist).
Selama fase uji coba ini, pihak maskapai akan mengirimkan data penumpang ke imigrasi Jepang sesaat setelah mereka naik ke pesawat. Sistem pemerintah akan memeriksa data tersebut dan mencocokkannya dengan daftar orang-orang yang dilarang masuk ke Jepang. Jika seseorang ada dalam daftar tersebut, maskapai tidak akan mengizinkan mereka untuk berangkat. Langkah ini sangat membantu dalam mencegah masuknya individu yang bermasalah dan meningkatkan keamanan perbatasan secara keseluruhan.
Perlu diingat bahwa JESTA dirancang untuk meningkatkan keamanan dan mencegah masuknya orang secara ilegal ke Jepang. Hingga saat ini, detail teknis mengenai cara pendaftaran JESTA, berapa lama prosesnya, hingga biaya aplikasinya belum diumumkan secara resmi. Untuk sekarang, kamu masih bisa menikmati liburan ke Jepang tanpa harus mengurus otorisasi ini.
Namun, bagi kamu yang berencana mengunjungi Jepang dalam beberapa tahun ke depan, sangat disarankan untuk terus memantau perkembangan terbaru mengenai JESTA. Hal ini penting agar proses masukmu ke Jepang tetap lancar saat sistem ini sudah diimplementasikan sepenuhnya nanti.
Baca juga: Panduan Liburan ke Jepang: Daftar Barang yang Tidak Boleh Dibawa Masuk ke Jepang
Langkah Jepang memperkenalkan JESTA mencerminkan komitmen mereka dalam menjaga ketatnya pengawasan perbatasan namun tetap menyambut hangat para wisatawan. Ini juga menjadi pengingat bagi kita semua untuk selalu mematuhi batas waktu masa tinggal yang telah diberikan oleh pemerintah Jepang. Sambil menunggu aturan ini resmi berjalan, pastikan kamu selalu memperbarui informasi agar pengalaman liburanmu tetap nyaman dan bebas kendala!
Dipublikasikan pada
Dapatkan tips dan berita travel terbaru!
Pengen ke Jepang dengan budget terbatas? Pastikan kamu menghemat biaya menggunakan beberapa tips hemat jalan-jalan ke Jepang ini!
Pandua lengkap menjelajahi Koridor Salju dan pemandangan unik lainnya di salah satu rute pegunungan terindah di Jepang: Rute Pegunungan Alpen Tateyama.
Kalau ke Jepang, pastinya jalan-jalan ke Gunung Fuji itu wajib! Ayo simak cara termurah pergi ke Mount Fuji dari Tokyo yang satu ini.
Bingung sama sistem kereta Jepang? Baca panduan lengkap ini tentang Japan Rail (JR), metro, dan subway di Tokyo, mulai dari cara membeli tiket dan pass hingga cara berpindah jalur kereta.
Daftar restoran Halal (atau ramah Muslim) di Tokyo untuk Muslim traveller. Tidak perlu bingung lagi mencari makanan Halal di Tokyo!
Kafe dan wisata viral semua ada di sini!
Value for money, dijamin!
Cek panduan wisata ramah Muslim: pilihan kuliner halal, tempat sholat unik, hingga beach club ramah hijab. Liburan tenang dan berkesan!
Siap-siap antri ya!
Dari seni, alam, budaya, hingga gedung pencakar langit.